Ditinggal Perusahaan Barat, Rusia Pilih UnionPay Milik China

Ditinggal Perusahaan Barat, Rusia Pilih UnionPay Milik China

Visa dan Mastercard memilih untuk angkat kaki dari Rusia, sekarang negara beralih ke UnionPay yang berasal dari China.

Akibat invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina, banyak perusahaan “barat” yang lebih memilih untuk meninggalkan negara tersebut.

Yang terbaru adalah perusahaan keuangan terkemuka Visa dan Mastercard, yang telah memilih untuk mencabut diri dari Rusia.

Akibatnya, untuk mencari alternatif bank sentral Rusia mengatakan telah beralih ke sistem UnionPay China.

Presiden Vladimir Putin meluncurkan “operasi militer khusus” terhadap Ukraina kurang dari dua minggu lalu, yang masih berlanjut sampai hari ini tanpa akhir nyata yang terlihat bagi kedua belah pihak.

NATO dan Uni Eropa memutuskan untuk tidak meningkatkan konflik dengan terlibat langsung melalui tindakan militer mereka sendiri.

Sebaliknya, mereka memilih opsi lain, yaitu dengan menjatuhkan segala macam sanksi terhadap negara, oligarki, orang-orang di sekitar Putin, dan warga biasa.

Sebagian besar langkah-langkah itu menargetkan sistem keuangan Federasi Rusia. Di antara yang pertama adalah menghapus beberapa bank dari SWIFT.

Selama akhir pekan ini, diketahui bahwa beberapa perusahaan keuangan barat terbesar juga akan berhenti melayani orang Rusia, termasuk Visa, Mastercard, dan PayPal.

Sementara spekulasi muncul apakah penduduk setempat akan beralih ke cryptocurrency, mengingat volume perdagangan yang meroket sejak perang dimulai.

Bank sentral Rusia mengatakan bahwa pemberi pinjaman lokal akan dapat menggunakan sistem UnionPay China.

Didirikan 20 tahun yang lalu dan berkantor pusat di Shanghai, China, UnionPay (dikenal sebagai CUP atau UPI internasional) beroperasi di lebih dari 180 negara.

Perlu juga dicatat bahwa organisasi tersebut mengatakan UnionPay dapat bekerja sama dengan sistem pembayaran Rusia sendiri.

Masih ada UnionPay, dan crypto exchange juga enggan tinggalkan Rusia

Berbanding terbalik dengan perusahaan keuangan barat seperti Visa, Mastercard, dan Paypal. Crypto exchange enggan meninggalkan Rusia.

Seperti yang telah dilaporkan sebelumnya oleh Jelajahcoin, Wakil PM Ukraina, Mykhailo Fedorov, telah meminta kepada para crypto exchange untuk berhenti melayani pengguna dari Rusia.

Selain itu, Fedorov juga meminta untuk pertukaran crypto untuk membekukan semua alamat blockchain dari pengguna Rusia.

Hal itu dituturkan Fedorov tidak lain untuk membantu Ukraina mempertahankan diri dari invasi Rusia yang sedang terjadi.

Dalam sebuah tweet pada hari Minggu, Fedorov menekankan pentingnya memotong akses crypto ke politisi Rusia dan Belarusia, serta “menyabotase pengguna biasa”.

Namun, beberapa cryptocurrency exchange terkemuka telah menolak permintaan Wakil Perdana Mentri Ukraina itu.

Di antara pertukaran yang masih melayani pedagang yang berbasis di Rusia adalah bursa tekemuka Binance, Kraken, dan yang terbaru Coinbase.

Organisasi berpendapat bahwa sebagian besar pengguna tersebut menentang perang, dan itu akan bertentangan dengan konsep industri crypto untuk membekukan akun mereka.

Postingan Terkait

Jelajahcoin